Selasa, 14 Juni 2011

Materi PAI SMA


Materi PAI SMA
Kelas/Semester            : VIII/1
Standar Kompetensi   :Memahami metode-metode membaca dan menulis Al-Qur’an
Kompetensi Dasar      :
·         Menjelaskan cara-cara membaca Al-Qur’an
·         Menjelaskan cara-cara menulis Al-Qur’an
·         Menjelaskan Metode-metode membaca dan menulis Al-Qur’an
Indikator                      : peserta didik:
·         Mampu menjelaskan cara-cara membaca Al-Qur’an
·         Mampu menjelaskan cara-cara menulis Al-Qur’an
·         Mampu menjelaskan Metode-metode membaca dan menulis Al-Qur’an
Materi Pokok
            Pada dekade belakangan ini telah banyak metode pengajaran baca tulis Al-Qur’an yang dikembangkan. Begitu juga dengan buku panduannya kini telah banyak disusun dan dicetak. Para pengajar baca tulis Al-Quran tinggal memilih mana metode yang palong tepat dan cocok untuk digunakan dan dikembangkan.[1] Dalam pendidikan mengakui bahwa metode-metode tersebut senantiasa memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing dan keberhasilan suatu metode pengajaran sangat ditentukan dalam beberapa hal, yaitu: kemampuan guru, siswa, lingkungan sekitar, materi ajar dan alat atau media yang digunakan.
A.    Cara-Cara Belajar Membaca Al-Qur’an
     Cara mudah belajar membaca Al-Qur’an secara garis besar seseorang harus menguasai empat hal yaitu:
·         Harus menguasai huruf hijaiyyah yang berjumlah 28 berikut makharijjul khurufnya. Hal ini dikarenakan, karena untuk bisa membaca Al-Qur’an 90% ditentukan oleh penguasaan huruf hijaiyyahnya dan selebihnya qyaitu 10% lagi digunakan untuk memahami tanda baca, hokum-hukum bacaan dll. Namun saat ini metode menghafal huruf hijaiyyah dapat di lakukan lebih cepat seperti menggunakan metode titian kata, tanda bentuk, dsb.
·         Menguasai tanda baca (a,I,u atau yang lebih sering disebut dengan fathah,kasrah, dan dhummah) tanda baca dalam huruf hijaiyyah ternyata sama dengan kita mengeja huruf latin denhgan istilah vocal (huruf hidup), hanya saja perbedaannya di dalam huruf Arab hanya mengenal vocal A, I, U dan O. sedangkan huruf latin terdapat vocal E. jika dihuruf latin huruf B bertemu dengan U menjadi huruf BUmaka sama dengan huruf Arab B jika bertemu dengan tanda baca U (dhommah) maka dibaca BU.
·         Menguasai isyarat baca seperti: panjang, pendek, dobel (tasydid, dst).  Isyarat baca panjang dan pendek pada Al-Qur’an sama juga seperti kita mengenal ketikan dalam tanda lagu. Karena Al-Qur’an juga mengandung irama lagu yang indah.
·         Menguasai hokum-hukum bacaan tajwid seperti car abaca dengung, samar, jelas, dsb. Begitu pula tidak ada kesulitan dalam belajar tajwid karena sudah ditemukan formulasinya seperti cukup menghafaltanda dan cara bacanya. Bahkan kalau tidak ingin repot sudah disusun Al-Qur’an plus tajwidnya dengan menggunakan tanda warna-warni bagi mereka yang belum bisa. Latihan yang istiqamah dengan seorang guru yang ahli. Di dalam membaca Al-Qur’an setiap qori’ (pembaca Al-Qur’an) harus membacannya sesuai dengan hokum-hukum tajwid seperti makharijjul huruf (tempat keluarnnya huruf), tanda baca panjang pendek, hokum nun mati, dengung, samar, jelas, dsb. Selain itu di dalam membaca Al-Qur’an terdapat dua irama yaitu: murattal (membaca perlahan-perlahan tanpa menggunakan irama lagu) dan tilawah (membaca dengan menggunakan irama tertentu).
B.     Cara-Cara Belajar Menulis Al-Qur’an
            Sebagaimana dalam belajar membaca Al-Qur’an, tahapan awal belajar menulis ialah mengenal huruf-huruf hijaiyyah dan juga mengerti karakteristik dari setiap huruf hijaiyyah, misalnya: alif yang memiliki karakteristik tegak memanjang, dan Ba’ yang memiliki karakterik seperti bejana yang memiliki satu titik ditengah bawah.
            Setelah mengetahui karakteristik setiap huruf hijaiyyah maka tahapan berikutnya adalah menggabungkan atau menyambungkan huruf hijaiyyah satu sama lain seperti halnya dalam Al-Qur’an kita harus mampu memilih mana huruf yang bisa disambung dan tidak bisa. Adapun cara termudah dan tercepat dalam memahami cara menyambungkan huruf-huruf hijaiyyah adalah membiasakan dengan melihat tulisan-tulisan berbahasa arab yang ada dalah al-qur’an atau kitab-kitab agama. Dalam tulisan-tiulisan al-qur’an terdapat berbagai macam model tulisan, jadi untuk tahapan yang terakhir ialah memahami jenis-jenis khot (tulisan) dalam al-qur’an agar tulisan lebih variatif.
C.    Metode-Metode Membaca dan Menulis Al-Qur’an
1.      Metode Iqro’
                        Metode Iqro’ disusun oleh bapak As’ad Humam dari kotagede Yogyakarta. Dan kemudian dikembangkan oleh AMM (Angkatan Muda  Al-Qur’an. Metode Iqra’ semakin berkembang dan merata di Indonesia setelah munas DPP BKPMI di Surabaya dan menjadikan Al-Qur’an dan metode Iqro’ sebagai program utama perjuangannya. Metode ini terdiri dari 6 jilid dengan variasi warna cover yang memikat perhatian anak TKA. Adapun lima sifat buku Iqro’ ialah:
·         Bacaan langsung
·         CBSA
·         Privat
·         Modul
·         Asistensi
2.      Metode Qiro’ati
                        Metode baca Al-Qur’an Qiro’ati ditemukan KH. Dahlan Salim Zakarsyi dari semarang, jawa tengah. Metode ini telah dikembangkan sejak awal tahun 1970-an. Ini memungkinkan anak-anak untuk bisa melajar dengan cara cepat dan mudah. Metode qiro’ati ini digunakan untuk anak-anak usia 4-6 tahun, 6-12 tahun, dan mahasiswa. Secara umum pengajarannya ialah meliputi:
·         Klasikal dan privat
·         Guru menjelaskan dengan member contoh materi pokok bahasan , selanjutnya siswa membaca sendiri (CBSA)
·         Siswa membaca tanpa mengeja
·         Sejak awal belajar siswa disarankan untuk membaca dengan tepat dan cepat.
3.      Metode Al-Barqy
                        Metode ini dapat dinilai sebagai metode cara membaca al-qur’an yang paling awal. Metode ini temukan oleh dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya fak. Adab Muhajjir Sulthon pada tahun 1965. Awalnya metode ini hanya diterapkan pada siswa usia SD. Adapun keuntungan metide ini ialah:
·         Bagi guru (guru mempunyai keahlian tambahan sehingga dapat mengajar dengan lebih baik
·         Bagi murid (murid merasa cepat belajar sehingga tidak merasa bosan dan menambah percaya diri karena sudah mengusai dalam waktu singkat.
·         Bagi Sekolah (sekolah menjadi lebih terkenal karena murid-muridnya mempunyai kemampuan untuk menguasai pelajaran lebih cepat dibandingkan dengan sekolah lain).
                        Metode ini juga disebut sebagai metode ANTI LUPA karena mempuyai struktur yang apabila pada saat siswa lupa dengan huruf-huruf / suku kata yang telah dipelajari maka ia akan dapat mengingat kembali tanpa bantuan guru penyebutan anti lupa tersebut karena penelitian dari Department agama RI.
4.      Metode Tilawati
                        Metode ini disusun pada tahun 2002 oleh tim yang terdiri dari Drs. Hasan Sadzili, Drs. H. Ali Muaffa,dkk. kemudian dikembangkan oleh pesantren virtual nurul falah Surabaya. Metode tilawah membverikan beberapa keuntungan yaitu”
·         Santri mampu membaca al-qur’an dengan tartil
·         Santri mampu membenarkan bacaan al-qur’an yang salah
·         Ketuntasan belajar santri secara individu 70% dan secara kelompok 80%
Prinsip-prinsip pembelajaran tilawah
·         Disampaikan dengan praktis
·         Menggunakan lagu rost
·         Menggunakan pendekatan secra individu dan klasikal secara seimbang
·         Metode iqro’ dewasa
·         Metode iqro’ terpadu
                        Metode iqro’ dewasa merupakan penyempurnaan iqro terpadu. Apabila dibandingkan lebih unggul iqro’ dewasa karena iqro dewasa ada 20 kali pertemuan. Sedangkan iqro’ terpadu hanya 10 kali pertemuandan dilengkapi dengan latihan membaca. Kedua metode ini diperiuntukkan bagi orang-orang dewasa saja dan prinsip-prinsipnya sama dengan yang dikembangkan dalam TKA.
5.      Metode Ummi
                        Metode ini muncul karena dilatarbelakangi oleh semakin besarnya sekolah islam terhadap pembelajaran al-qur’an. Khususnya bagi siswa SD dan MI. adapun dasar dari metode umum adalah pendekatan dengan bahasa ibu. Bahasa ibu yang dimaksud adalah direct method yaitu metode langsung dan tidak banyak penjelasan, kedua ialah repetation atau diulang-ulang, yang ketiga yaitu kasih saying yaitu kita dituntut harus bisa menunjukan kasih saying kita terhadap anak didik kita. Adapun tahapan-tahapan pembelajaran dalam metode ummi yaitu: pembukaan, appersepsi, pemahaman konsep, pemahaman atau latihan, keterampilan, evaluasi, penutup.
Kesimpulan
Metode apapun yang berkembang, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Efektifitas, efisiensi, cepat mudahnya sebuah metode pengajaran berbeda-beda di tiap daerah. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Penggabungan beberapa metode pengajaran belum tentu membuahkan hasil yang baik. Perlu konsistensi bagi pembina dalam menerapkan sebuah metode apabila telah dipilih, sebab ganti-ganti metode akan menyebabkan kebingungan bagi pembina, terlebih lagi bagi santri.


                [1] Metode-metode mengajar Al-Qur'an di sekolah-sekolah Umum, Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam1994/1995 h. 64-65

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar